Jumat, 03 Februari 2017

Menurut Al Ghazali pernah membagi manusia menjadi empat (4) golongan:



Menurut Al Ghazali pernah membagi manusia menjadi empat (4) golongan:

Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri, yaitu seseorang yang tahu (berilmu), dan dia tahu kalau dirinya tahu.

Orang ini bisa disebut ‘alim (mengetahui). Kepada orang ini yang harus kita lakukan adalah mengikutinya. Apalagi kalau kita masih termasuk dalam golongan orang yang awam, yang masih butuh banyak diajari, maka sudah seharusnya kita mencari orang yang seperti ini, duduk bersama dengannya akan menjadi pengobat hati.

Ini adalah jenis manusia yang paling baik. Jenis manusia yang memiliki kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmu, maka ia menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat.

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri, yaitu seseorang yang tahu (berilmu), tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu.

Untuk model ini, bolehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah tertidur. Sikap kita kepadanya membangunkan dia. Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi. 

Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri, yaitu seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu.

Jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintrospeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar.

Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri, yaitu seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu), dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu).

Inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya.

Kamis, 26 Januari 2017

Bahan khutbah Jumat



Bahan khutbah Jumat hari ini, Jumat, 27 Januari 2017 di Masjid At Taqwa Desa Solo Kec. Angkona

Orang yang beriman itu adalah bersaudara, bukan musuh jika terjadi sedikit perbedaan seperti perbedaan dalam hal furu’/cabang. Perbedaan dalam hal furu’ itu adalah perbedaan yang masih bisa ditolelir. Hal itu tidak bisa menjadi musuh, karena musuh kita adalah kaum dzolimin.
$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  
            10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw öyó¡o ×Pöqs% `ÏiB BQöqs% #Ó|¤tã br& (#qçRqä3tƒ #ZŽöyz öNåk÷]ÏiB Ÿwur Öä!$|¡ÎS `ÏiB >ä!$|¡ÎpS #Ó|¤tã br& £`ä3tƒ #ZŽöyz £`åk÷]ÏiB ( Ÿwur (#ÿrâÏJù=s? ö/ä3|¡àÿRr& Ÿwur (#rât/$uZs? É=»s)ø9F{$$Î/ ( }§ø©Î/ ãLôœew$# ä-qÝ¡àÿø9$# y÷èt/ Ç`»yJƒM}$# 4 `tBur öN©9 ó=çGtƒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqçHÍ>»©à9$# ÇÊÊÈ  
            11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
            Ayat ini membahas mengenai larangan mengejek satu kaum terhadap kaum yang lain yang sama-sama punya iman walaupun misalnya berbeda kelompok, suku, bangsa, akan tetapi sama-sama beriman kepada Alloh SWT, tidak boleh saling mengejek. Bahkan lebih jauh lagi berbeda agama sekalipun kita tidak dibolehkan untuk saling mengejek.
            Hadirin, sesama umat seiman kita jangan suka mengolok-olok atau dengan panggilan yang buruk misal kafir, fasik, munafik, monyet atau panggilan yang tidak baik yang berhubungan dengan Iman atau menghina orang tua orang lain karena dengan begitu berarti sama saja dengan menghina orang tua kita, tetapi panggillah dengan gelaran-gelaran yang baik.
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtär& óOà2ßtnr& br& Ÿ@à2ù'tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§ ÇÊËÈ  
            12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
            Prasangka itu ada dua macam ; husnudzon dan Suudzon, ada baik sangka dan ada buruk sangka. Yang tidak boleh itu adalah Suudzon. Misalnya kita mengatakan kepada teman kita tentang teman kita yang lain “hey hati-hati si Anu suka buruk sangka kepada kita? Hadirin, sebenarnya itu sudah termasuk berburuk sangka kepada orang lain. Oleh karena itu kita harus waspada.
            Tapi husnudzon pun jatuhnya hanya kepada orang yang baik, misalkan di bis ada orang diam-diam
membuka dompet kita, lalu kita berbaik sangka  oh mungkin dia akan menghitungkan uang saya…” , itu tentu baik sangka yang konyol karena pasti orang itu adalah copet. Kepada orang yang beriman jangan sering melakukan “walaa tajassasu” suka mengorek-ngorek aib, suka mencari-cari kesalahan, kecuali untuk tindakan keadilan, pencegahan kemunkaran. Dengan menceritakan keburukan orang lain berarti kita telah ghibah. Ghibah itu batasannya, kalau ucapan yang diceritakan itu, membuat orang sakit hati andaikata mendengarnya.
            Hadirin, demikian pula dalam kehidupan sehari-hari kita tidak boleh saling menghina karena perbedaan.
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  
            13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

            Hadirin, umat manusia di muka bumi ini bermacam-macam suku, bangsa, ras, warna kulit, kebudayaan dan lain sebagainya. Ada yang diciptakan di tempat tertentu atau negara tertentu. Jika ada keburukan maka yang buruk itu bukan tempat atau negaranya, bukan suku atau rasnya, yang buruk itu adalah perangainya atau akhlaknya.Ketika zaman Rasulullah Muhammad SAW, Bilal yang hitam legam tetap mulia disisisi Allah, lalu Salman Al Farisi dari Persia tetap saja mulia disisi Allah. Sebenarnya perbedaan lintas Negara, lintas suku, lintas bangsa merupakan nilai ukhuwah. Inna akromakum ‘inndalloohi attqookum yang mulia bukan warna kulit, jabatan, gelar, pangkat, akan tetapi yang shaleh dan taat pada Alloh SWT itulah yang mulia.