Sabtu, 03 Desember 2016

PROFESI GURU

PROFESI GURU
Suatu pekerjaan dapat menjadi profesi harus memenuhi kriteria atau persyaratan tertentu yang melekat dalam pribadinya sebagai tuntutan melaksanakan profesi tersebut. Menurut Dr. Wirawan, Sp.A (dalam Dirjenbagais Depag RI, 2003) menyatakan persyaratan profesi antara lain :

a. Pekerjaan Penuh
Suatu profesi merupakan pekerjan penuh dalam pengertian pekerjaan yang diperlukan oleh masyarakat atau perorangan. Tanpa pekerjaan tersebut masyarakat akan menghadapi kesulitan. Profesi merupakan pekerjaan yang mencakup tugas, fungsi, kebutuhan, aspek atau bidang tertentu dari anggota masyarakat secara keseluruhan. Profesi guru mencakup khusus aspek pendidikan dan pengajaran di sekolah.

b. Ilmu pengetahuan
Untuk melaksanakan suatu profesi diperlukan ilmu pengetahuan. Tanpa menggunakan ilmu tersebut profesi tidak dapat dilaksanakan.
Ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan profesi terdiri dari cabang ilmu utama dan cabang ilmu pembantu. Cabang ilmu utama adalah cabang ilmu yang menentukan esensi suatu profesi. Contohnya profesi guru cabang ilmu utamanya adalah ilmu pendidikan dan cabang ilmu pembantunya masalah psikologi.
Salah satu persyaratan ilmu pengetahuan adalah adanya teori, bukan hanya kumpulan pengetahuan dan pengalaman. Fungsi dari suatu teori adalah untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Dengan mempergunakan teopri ilmu pengetahuan, profesional dapat menjelaskan apanyang dihadapinya dan apa yang akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi. Teori ilmu pengetahuan juga mengarahkan profesional dalam mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam melaksanakan profesi.

c. Aplikasi Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan pada dasarnya mempunyai dua aspek yaitu aspek teori dan aspek aplikasi. Aspek aplikasi ilmu pengetahuan adalah penerapan teori-teori ilmu pengetahuan untuk membuat sesuatu, mengerjakan sesuatu atau memecahkan sesuatu yang diperlukan. Profesi merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk mengerjakan, menyelesaikan atau membuat sesuatu.

Kaitan dengan profesi, guru tidak hanya ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh guru tetapi juga pola penerapan ilmu pengetahuan tersebut sehingga guru dituntut untuk mengusai keterampilan mengajar.

d. Lembaga pendidikan Profesi
Ilmu pengetahuan yang diperlukan oleh guru untuk melaksanakan profesinya harus dipelajari dari lembaga pendidikan tinggi yang khusus mengajarkan, menerapkan dan meneliti serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu keguruan. Sehingga peran lembaga pendidikan tinggi sebagai pencetak sumber daya manusia harus betul-betul memberikan pemahaman dan pengetahuan yang mantap pada calon pendidik.

e. Prilaku profesi
Perilaku profesional yaitu perilaku yang memenuhi persyaratan tertentu, bukan perilaku pribadi yang dipengaruhi oleh sifat-sifat atau kebiasaan pribadi. Prilaku profesional merupakan perilaku yang harus dilaksanakan oleh profesional ketika melakukan profesinya.

Menurut Benard Barber (1985) (dalam Depag RI, 2003), perilaku profesional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Mengacu kepada ilmu pengetahuan
2) Berorientasi kepada insterest masyarakat (klien) buka interest pribadi.
3) Pengendalian prilaku diri sendiri dengan mepergunakan kode etik.
4) Imbalan atau kompensasi uang atau kehormatan merupakan simbol prestasi kerja bukan tujuan dari profesi.
5) Salah satu aspek dari perilaku profesional adalah otonomi atau kemandirian dalam melaksanakan profesinya.

f. Standar profesi
Standar profesi adalah prosedur dan norma-norma serta prinsip-prinsip yang digunakan sebagai pedoman agar keluaran (out put) kuantitas dan kualitas pelaksanaan profesi tinggi sehingga kebutuhan orang dan masyarakat ketika diperlukan dapat dipenuhi.

Dibeberapa negara telah memperkenalkan “Standar Profesional untuk guru dan Kepala sekolah”, misalnya di USA dimana National Board of Professional teacher Standards telah mengembangkan standar dan prosedur penilaian berdasarkan pada 5 (lima) prinsip dasar (Depdiknas, 2005) yaitu :
1) Guru bertanggung jawab (committed to) terhadap siswa dan belajarnya.
2) Guru mengetahui materi ajar yang mereka ajarkan dan bagaimana mengajar materi tersebut kepada siswa.
3) Guru bertanggung jawab untuk mengelola dan memonitor belajar siswa.
4) Guru berfikir secara sistematik tentang apa-apa yang mereka kerjakan dan pelajari dari pengalaman.
5) Guru adalah anggota dari masyarakat belajar

Standar di atas menunjukkan bahwa profesi guru merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebab guru akan selalu berhadap dengan siswa yang memiliki karakteritik dan pengetahuan yang berbeda-beda maka untuk membimbing peserta didik untuk berkembang dan mengarungi dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang secara tepat berubah sebagai ciri dari masyarat abad 21 sehingga tuntutan ini mengharuskan guru untuk memenuhi standar penilaian yang ditetapkan.

g. Kode etik profesi
Suatu profesi dilaksanakan oleh profesional dengan mempergunakan perilaku yang memenuhi norma-norma etik profesi. Kode etik adalah kumpulan norma-norma yang merupakan pedoman prilaku profesional dalam melaksanakan profesi.Kode etik guru adalah suatu norma atau aturan tata susila yang mengatur tingkah laku guru, dan oleh karena itu haruslah ditatati oleh guru dengan tujaun antara lain :
1) Agar guru-guru mempunyai rambu-rambu yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku sehari-hari sebagai pendidik.
2) Agar guru-guru dapat bercermin diri mengenai tingkah lakunya, apakah sudah sesuai dengan profesi pendidik yang disandangnya ataukah belum.
3) Agar guru-guru dapat menjaga (mengambil langkah prefentif), jangan sampai tingkah lakunya dapat menurunkan martabatnya sebagai seorang profesional yang bertugas utama sebagai pendidik.
4) Agar guru selekasnya dapat kembali (mengambil langkah kuratif), jika ternyata apa yang mereka lakukan selama ini bertentangan atau tidak sesuai dengan norma-norma yang telah dirumuskan dan disepakati sebagai kode etik guru.
5) Agar segala tingkah laku guru, senantiasa selaras atau paling tidak, tidak bertentangan dengan profesi yang disandangnya, ialah sebagai seorang pendidik. Lebih lanjut dapat diteladani oleh anak didiknya dan oleh masyarakat umum.

Kode etik guru ditetapkan dalam suatu kongres yang dihadiri oleh seluruh utusan cabang dan pengurus daerah PGRI se Indonesia dalam kongres k XIII di Jakarta tahun 1973, yang kemudian disempurnakan dalam kongres PGRI ke XVI tahun 1989 juga di Jakarta yang berbunyi sebagai berikut :
1) Guru berbakti membimbing siswa untuk membentuk manusia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2) Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
3) Guru berusaha memperoleh informasi tentang siswa sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
4) Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.
5) Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
6) Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7) Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.
8) Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
9) Guru melaksanakan segala kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang pendidikan.

Selain kode etik guru Indonesia, sebagai pernyataan kebulatan tekad guru Indonesia, maka pada kongres PGRI XVI yang diselenggarakan tanggal, 3 sampai dengan 8 Juli 1989 di Jakarta telah ditetapkan adanya Ikrar Guru Indonesia dengan rumusan sebagai berikut :

IKRAR GURU INDONESIA
1) Kami Guru Indonesia, adalah insan pendidik bangsa yang beriman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Kami Guru Indonesia, adalah pengemban dan pelaksana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pembela dan pengamal Pancasila yang setia pada Undang-undang Dasar 1945.
3) Kami Guru Indonesia, bertekad bulat mewujudkan tujuan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
4) Kami Guru Indonesia, bersatu dalam wadah organisasi perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia, membina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak kekeluargaan.
5) Kami Guru Indonesia, menjunjung tinggi Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman tingkah laku profesi dalam pengabdiannya terhadap bangsa, negara, dan kemanusiaan.

Dorothy Law Nolte dalam Dryden dan Vos (2000: 104)

Dorothy Law Nolte dalam Dryden dan Vos (2000: 104) menyatakan bahwa anak belajar dari kebiasaan hidupnya.

  • Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
  • Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
  • Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
  • Jika ia dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
  • Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
  • Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
  • Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
  • Jika anak dibesarkan dengan dorongan , ia belajar percaya diri
  • Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
  • Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
  • Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
  • Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
  • Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
  • Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
  • Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
  • Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
  • Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
  • Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dalam pikiran

BONGKA MANU BERKARYA


Guru Harus Paham Kepribadian dan Karakter Anak Didik


Salah satu upaya untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah dengan mengetahui kepribadian dan karakter anak. Untuk membangun dua hal tersebut tentu tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Anak memerlukan lingkungan subur yang sengaja diciptakan sehingga memungkinkan potensi anak dapat tumbuh optimal. Dengan demikian anak bisa tumbuh lebih sehat, cerdas dan berperilaku baik. Lingkungan yang dimaksud bisa melalui jalur pendidikan formal, seperti di sekolah dan jalur pendidikan informal, seperti di rumah.

Lingkungan yang ada di sekolah tentunya tidak lepas dari peranan para guru. Seorang guru yang baik hendaknya dapat mengenal kepribadian siswa yang nantinya dapat membantu untuk melihat karakter siswa tersebut. Guru harus mampu memotivasi siswanya agar siswa dapat menjadi diri mereka yang terbaik, dapat memperbaiki kekurangan mereka dan meningkatkan terus kelebihan-kelebihan yang mereka miliki.

Setiap siswa memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda-beda. Setiap jenis karakterpun pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita tidak dapat menilai siswa “A” lebih baik dari siswa “B”. Lebih bijaksanalah dalam menilai siswa, karena dari dua individu itu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Banyak manfaat yang dapat dipetik bila seorang guru mampu mengenal kepribadian dan karakter siswanya dengan baik. Beberapa manfaat tersebut adalah :

  • Mengetahui kelebihan yang mereka miliki dan dapat meningkatkannya
  • Mendeteksi kelemahan yang mereka miliki dan memperbaikinya
  • Mengetahui potensi-potensi yang ada pada diri mereka dan mengoptimalkannya untuk kesuksesan dimasa yang akan datang
  • Menyadarkan mereka bahwa mereka masih memiliki banyak kekurangan sehingga pantang untuk bersikap sombong dan merendahkan orang lain
  • Dapat mengetahui jenis pekerjaan apa yang paling cocok untuk mereka dimasa akan datang sesuai dengan kepribadian dan karakter mereka sehingga kita dapat mengarahkannya menjadi lebih baik
  • Mengenal diri sendiri dapat membantu anak didik untuk berkompromi dengan diri sendiri dan orang lain dalam berbagai situasi
  • Mengenal kepribadian (personality) diri dapat membantu mereka menerima dengan ikhlas segala kelebihan dan kekurangan diri sendiri, sekaligus bertoleransi terhadap kelebihan dan kelemahan orang lain.
Dengan memahami dan mengetahi kepribadian siswanya maka proses belajar mengajar dapat lebih dioptimalkan.

SDN 203 BONGKA MANU BERKARYA


METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA


Oleh: Syamsul Rijal, S.Pd.I
(Guru SDN 203 Bongka Manu Desa Solo Kec. Angkona Kab. Luwu Timur)



Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Mata Pelajaran IPA, bahwa IPA adalah “cara mencari tahu secara sistematis tentang alam semesta”. Dalam proses mencari tahu ini pembelajaran IPA dirancang untuk mengembangkan Kerja Ilmiah dan Sikap Ilmiah siswa Pengertian tersebut mengandung makna bahwa proses pembelajaran IPA di Sekolah Dasar menuntut guru mampu menyediakan dan mengelola pembelajaran IPA dengan suatu metode dan teknik penunjang yang memungkinkan siswa dapat mengalami seluruh tahapan pembelajaran yang bermuatan keterampilan proses, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep. Sementara kenyataan di lapangan, pada mayoritas SD, tuntutan karakteristik pendidikan IPA sebagaimana diamanatkan oleh KTSP masih jauh dari yang dimaksudkan.



Metode demonstrasi adalah salah satu metode pembelajaran yang menitik beratkan pada upaya guru menggunakan alat peraga yang jumlahnya sangat terbatas untuk memperjelas konsep dan memfasilitasi kinerja siswa.



1. Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses didasarkan pada cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya yang diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar dengan memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai, serta keterampilan (Karso,dkk., 1993:186). Beberapa alasan mengapa pendekatan keterampilan proses perlu diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar bagi (khususnya) sekolah pendidikan dasar:
  • Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung semakin cepat, sehingga guru akan mengalami kesulitan jika harus mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.
  • Dengan keterampilan proses mereka dapat menemukan sendiri konsep-konsep dari berbagai sumber belajar melalui latihan-latihan yang berkualitas dan terencana dengan baik.
  • Secara psikologis siswa pada pendidikan dasar akan dengan mudah memahami konsep-konsep yang abstrak dan rumit jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, memulai dengan konsep yang telah mereka miliki sebelumnya, dan berlangsung wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
  • Pemahaman siswa yang didapat melalui keterampilan proses akan lebih bermakna dan dapat mengingat lebih lama, lebih lebih jika mereka mendapat kesempatan mempraktekkan sendiri, melakukan penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik dan penanganan benda-benda.
  • Siswa perlu dilatih dan dirangsang untuk selalu bertanya, berpikir kritis-objektif, serta terbiasa mengupayakan kemungkinan-kemung-kinan jawaban terhadap sesuatu masalah.



Dengan merujuk kepada Nuryani Rustaman (1992) keterampilan proses dasar yang memungkin dikembangkan dalam pembelajaran sains di SD adalah:

1. Melakukan pengamatan (observasi)
Keterampilan ini berhubungan dengan penggunaan secara optimal dan proporsional seluruh alat indera untuk menggambarkan karakteristik obyek dan hubungan ruang-waktu atau mengukur karakteristik fisikal benda-benda yang diamati. Pengamatan dapat dilakukan secara langsung dengan penginderaan (baik pakai alat bantu maupun tidak) dan tak langsung (misalnya melalui perhitungan dengan menggunakan fakta-fakta hasil pengamatan).



Pengamatan juga dapat dilakukan dengan alat bantu maupun tidak. Dalam pendidikan sains, pengembangan keterampilan proses sains harus memungkinkan siswa dapat melakukan pengamatan dengan menggunakan panca inderanya secara optimal baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Kualitas pengamatan berkaitan dengan ketepatan dan keakuratan data hasil pengamatan; sedangkan kuantitas berhubungan dengan jumlah alat indera yang terlibat dalam kegiatan pengamatan. Contoh: " Perhatikanlah tiga buah permen yang ada di hadapan kalian". Sebutkanlah permen mana yang paling besar, berapa cm panjang masing-masing permen tersebut; Jelaskan rasa masing-masing permen; dan sebutkanlah empat perbedaan diantara ketiga permen tersebut.

2. Mengajukan pertanyaan
Setiap berhadapan dengan suatu masalah semestinya siswa mengajukan pertanyaan:. Untuk sampai pada keterampilan ini, guru harus terlebih dahulu menunjukkan pola berpikir "Apa - Mengapa - dan Bagaiama" dalam setiap mengupas suatu masalah bersama-sama dengan siswa. Keberanian siswa untuk bertanya, harus ditumbuhkan guru dalam setiap pembelajaran. Contoh: Sajikanlah ke hadapan siswa suatu fenomena alam atau ilustrasi fenomena alam yang menarik, aneh, mengundang keingintahuan. Mintalah siswa untuk mengajukan (menuliskan) hal-hal yang ingin diketahui lebih lanjut.



3. Menafsirkan hasil pengamatan (interpretasi dan inferensi)
Interpretasi meliputi keterampilan mencatat hasil pengamatan dengan bentuk angka-angka, menghubung-hubungkan hasil pengamatan, menemukan pola atau keteraturan dari satu seri pengamatan hingga memperoleh kesimpulan. Sedangkan Inferensi adalah kesimpulan sementara berdasarkan data hasil observasi. Bahkan seringkali hanya berupa penjelasan sederhana terhadap hasil observasi.



.4. Mengelompokkan (klasifikasi)
Dasar keterampilan mengklasifikasi adalah kemampuan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan antara berbagai objek yang diamati. Termasuk ke dalam jenis keterampilan ini adalah menggolong-golongkan, membandingkan, mengkontraskan, dan mengurutkan. Contoh: Berikanlah kepada siswa sejumlah daun yang utuh dari beragam bentuk dan tumbuhan, mintalah siswa mengelompokkan daun-daun tersebut.



5. Meramalkan (prediksi)
Keterampilan meramalkan atau prediksi mencakup keterampilan mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu kecenderungan atau pola data yang sudah ada.



2. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi (Demonstration method) adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Andrian, 2004:12). Metode demonstrasi dapat juga diartikan metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.



Edi Hendri (2006: 160) mengemukakan beberapa aspek yang harus dipersiapkan matang oleh guru sebelum melaksanakan metode demonstrasi terutama yang berkaitan dengan pengelolaan alat peraga/media pembelajaran. Aspek-aspek tersebut adalah:



  • Relevansi alat peraga/media yang digunakan dengan konsep/materi yang diajarkan, 
  • Kesesuaian jumlah dan kelengkapan alat peraga/media dengan tuntutan materi pembelajaran, 
  • Proporsi ukuran alat peraga/media yang digunakan sehingga mudah diamati siswa, 
  • Estetika/kerapihan alat peraga/media sehingga menarik bagi siswa, 
  • Keterampilan menggunakan alat peraga/media.



Dengan merujuk kepada karakteristik pembelajaran bermakna dengan strategi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan) sebagaimana digagaskan oleh Pusat Kurikulum depdiknas, Edi Hendri (2006:160) menjelaskan tugas atau kinerja utama guru dalam memfungsikan alat peraga atau media selama demonstrasi. Menurutnya paling tidak alat peraga/media di tangan guru saat melakukan demonstrasi harus difungsikan untuk: (1) memusatkan perhatian siswa; (2) memotivasi siswa untuk belajar; (3) membangkitkan keingintahuan siswa; (4) mengungkap pengetahuan awal siswa; (5) memperjelas pertanyaan guru; (6) memperjelas penjelasan konsep; (7) memperjelas cara kerja/pengetahuan prosedural; (8) memfasilitasi pertanyaan siswa; (9) memfasilitasi unjuk kerja siswa di depan kelas; (10) memfasilitasi siswa melakukan Keterampilan Proses Dasar (mengobservasi, mencatat data, melaporkan hasil observasi).



Kesimpulan
Faktor penting yang harus dipersiapkan guru dalam proses pembelajaran adalah mematangkan keterampilan dalam mengelola dan memfungsikan alat peraga serta keterampilan khusus agar siswa termotivasi dan berani untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu perlu dikembangkan penggunaan catatan persiapan guru yang secara khusus berisi skenario cara-cara menggunakan alat peraga untuk tujuan pengembangan keterampilan proses.



DAFTAR PUSTAKA
BPTP Disdik Jabar. (2004). Pengantar Praktik Penilaian Pembelajaran Sains. Bandung: Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan Disdik Jabar.
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Kerangka Dasar. Jakarta: Pusat Kurikulum.
Jubardi Anshori. (2006). Kegiatan Belajar Mengajar berbasis Psikologi Belajar. Surabaya: PT Wali Songo Citra Aksara.
Kasbolah. K. (1999). Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.
Wuryanti. (2003). Mengembangkan Potensi Siswa dengan Media dan Alat Peraga. Surabaya: PT Wali Songo Citra Aksara.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS PARAGRAF


MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENULIS PARAGRAF
Oleh: Syamsul Rijal, S.Pd.I.
(Guru SDN 203 Bongka Manu Desa Solo Kec. Angkona Kab. Luwu Timur)


A. Pendahuluan

Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan. Bahasa yang resmi, memiliki peranan yang sangat fital dalam menyatukan berbagai macam tutur bahasa di negeri ini. Dalam praktek pemakaian, para penutur bahasa tentulah dapat merasakan perbedaan antara ragam lisan dan ragam tulisan. Ragam lisan menghendaki adanya “lawan bicara” yang siap mendengar yang diucapkan oleh seseorang. Sedangkan ragam tulisan tidak selalu memerlukan “lawan bicara“ yang siap membaca yang di tuliskan oleh seseorang. Dalam ragam tulis, fungsi-fungsi gramatikal harus di nyatakan secara eksplisit agar orang yang membaca suatu tulisan, dapat memahami maksud penulisnya.

Dalam hal keterampilan menulis, bahasa di tempatkan pada tataran paling tinggi dalam proses pemerolehan bahasa. Hal ini disebabkan keterampilan menulis merupakan keterampilan paling produktif yang hanya di peroleh sesudah keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca. Oleh karena itu banyak pakar yang mengemukakan bahwa keterampilan menulis adalah hal yang paling pokok dari semua keterampilan bahasa yang ada.

Walaupun keterampilan menulis dianggap sulit namun manusia tidak bisa lepas dari kegiatan menulis. Hampir setiap aktifitas kegiatan manusia selalu terkait dengan kegiatan menulis yang merupakan salah satu alat komunikasi yang aktif dilakukan oleh semua pihak dewasa ini. Oleh karena itu keterampilan menulis harus senantiasa dikembangkan terutama dikalangan pelajar, terlebih lagi seseorang yang berpredikat sebagai guru.

Pengajaran menulis harus digalakkan sedini mungkin. Untuk itu dalam kurikulum 2006 (KTSP) mulai dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, pengajaran menulis menjadi aspek pembelajaran bahasa Indonesia yang mendapat porsi yang lebih besar dari pada keterampilan berbahasa lainnya.

Agar tujuan menulis/mengarang dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan latihan memadai dan secara terus-menerus. Selain itu, anak pun harus dibekali pengetahuan dan pengalaman tentang hal-hal yang akan ditulisnya.

B. Keterampilan Menulis

Menulis merupakan salah satu keterampilan yang dipergunakan untuk berkomuniksi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain (Tarigan, 1982).
Ahmadiah, dkk dalam Munirah (2006:1) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu bentuk komunikasi. Menulis merupakan suatu proses pemikiran yang dinilai dengan pemikiran tentang gagasan yang akan disampaikan. Menulis merupakan bentuk komunikasi yang berbeda dengan bercakap-cakap; dalam tulisan tidak terdapat intonasi, ekspresi wajah, gerakan fisik, serta yang tidak menyertai percakapan; menulis merupakan ragam komunikasi yang perlu dilengkapi dengan tanda-tanda penjelas, atau ejaan serta tanda baca, dan menulis merupakan bentuk komunikasi untuk menyampaikan gagasan kepada khalayak pembaca yang tidak di batasi oleh jarak, tempat, dan waktu

Dalam menulis, terdapat beberapa skala prioritas. Penentuan proritas ini diharapkan dapat digunakan sebagai strategi dasar untuk memulai belajar menulis. Sebagai strategi dasar, prioritas yang dimaksud tentu saja tidak hanya berupa suatu rangkaian kemampuan yang mengarah pada terbentuknya sebuah tulisan. Rangkaian kemampuan yang dimaksud adalah: (1) kemampuan untuk mengingat dan mengapresiasi tulisan yang baik, (2) kemampuan untuk memhami proses penulisan, (3) kemampuan mempelajari tentang bagaimana sebuah tulisan itu dimulai, (4) kemampuan mengorganisasi tulisan, dan (5) kemampuan menyatakan tulisan.

C. Pentingnya Pelajaran Menulis di Sekolah Dasar

Dalam masyarakat modern, keterampilan menulis sangat berguna. Banyak jenis-jenis kegiatan menulis yang kita lakukan setiap hari, misalnya menulis surat, menulis laporan, pidato, ceramah, karangan, dan lain-lain. Dapat dikatakan bahwa hampir setiap hari manusia sebagai anggota masyarakat modern terlibat dalam kegiatan menulis, Oleh karena itu keterampilan menulis di sekolah sangat penting.

Selain itu, pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung, Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berfikir, serta dapat menolong kita berfikir secara kritis dan kreatif,

Di sekolah dasar, pengajaran menulis merupakan salah satu pokok bahasan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang perlu mendapat perhatian khusus. Pengajaran menulis di sekolah dasar diharapkan dapat membekali keterampilan dasar siswa dalam menulis. Oleh karena itu menulis hendaknya di mulai dari yang sangat sederhana. Dengan harapan bekal dasar yang dimiliki di sekolah dasar, dapat dikembangkan dan dimanfaatkan pada jenjang berikutnya.

D. Strategi Penemuan Terbimbing

Pembelajaran penemuan terbimbing merupakan salah satu bagian dari pembelajaran penemuan yang banyak melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dilihat dari segi kadar aktifitas interaksi antara guru dan siswa, dan antara siswa dan siswa maka penemuan terbimbing merupakan kombinasi antara pembelajaran langsung dan pembelajaran tidak langsung (Santoso, 2008)

Metode pembelajaran penemuan adalah suatu metode pembelajaran dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi-informasi yang secara tradisional bisa diberitahukan atau diceramahkan saja (Suryabrata, 1997: 1972).

Metode pembelajaran ini merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide/gagasan melalui proses menemukan. Fungsi pengajar di sini bukan untuk menyelesaikan masalah bagi peserta didiknya, melainkan membuat peserta didik mampu menyelesaikan masalah itu sendiri (Hudojo, 1988, 114).

Metode pembelajaran yang ekstrim seperti ini sangat sulit dilaksanakan karena peserta didik belum sebagai ilmuwan, tetapi mereka masih calon ilmuwan. Peserta didik masih memerlukan bantuan dari pengajar sedikit demi sedikit sebelum menjadi penemu yang murni. Jadi metode pembelajaran yang mungkin dilaksanakan adalah metode pembelajaran penemuan terbimbing. Dengan demikian kegiatan belajar mengajar dapat melibatkan secara maksimum baik pengajar maupun pesertra didik. 

Dalam pembelajaran penemuan terbimbing tugas guru cenderung menjadi fasilitator. Tugas ini tidaklah mudah, lebih-lebih kalau menghadapi kelas besar, atau adanya siswa yang lambat atau sebaliknya amat cerdas. Karena itu sebelum melaksanakan metode pembelajaran dengan penemuan ini guru perlu benar-benar mempersiapkan diri dengan baik. Baik dalam tiap hal pemahaman konsep-konsep yang akan diajarkan maupun memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di kelas sewaktu pembelajaran tersebut berjalan. Dengan kata lain guru perlu mempersiapkan pembelajaran dengan cermat
.
Ada hubungan yang kuat antara kadar dominasi guru dengan kesiapan mental untuk menginternalisasikan konsep-konsep, yaitu usia dan perkembangan mental siswa, dan hubungan antara pengetahuan awal dan konstruksi konsep yang dimiliki siswa dengan kemampuan siswa untuk mengikuti pembelajaran penemuan, baik secara terbimbing maupun secara bebas. Siswa hanya dapat memahami konsep-konsep sesuai dengan kesiapan intelektualnya, semakin muda siswa yang dihadapi oleh guru, guru perlu lebih banyak menyajikan pengalaman kepada mereka untuk menggali pengetahuan awal dan membimbing mereka untuk membentuk konsep-konsep. Sedangkan siswa yang lebih dewasa membutuhkan lebih sedikit keterlibatan aktif guru karena mereka lebih banyak berinisiatif untuk bekerja dan guru akan berfungsi sebagai fasilitator, nara sumber, pendorong, dan pembimbing.

Pembelajaran dengan penemuan siswa didorong untuk belajar yang sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri. Namun dalam proses penemuan ini siswa mendapat bimbingan dari guru agar mereka lebih terarah sehingga baik proses pelaksanaan pembelajaran maupun tujuan yang dicapai terlaksana dengan baik. Bimbingan guru yang dimaksud adalah memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan dan berupa arahan tentang prosedur kerja yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran (Ratumanan dalam Santoo, 2008).

Beberapa keuntungan pembelajaran penemuan terbimbing yaitu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn), belajar menghargai diri sendiri, memotivasi diri dan lebih mudah untuk menstransfer, memperkecil atau menghindari menghafal, dan siswa bertanggung jawab atas pembelaajrannya sendiri.

E. Tahap-tahap Pembelajaran
  1. Orientasi siswa pada masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang diberikan guru.
  2. Mengorganisasikan siswa dalam belajar. Guru membantu siswa mendefenisikan dan mengoranisasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah serta menyediakan alat.
  3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Guru mendorong siswa untuk menyimpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
  4. Menyajikan/mempersentasikan hasil kegiatan. Guru membimbing siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model yang membantu mereka untuk berbagi tugas dngan temannya.
  5. Mengevaluasi kegiatan. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi pada kegiatan penyelidikan dan proses penemuan yang digunakan.
Carin (dalam Padia, 2008) memberikan petunjuk dalam merencanakan dan menyiapkan pembelajaran penemuan terbimbing sebagai berikut:
  1. Menentukan tujuan yang akan dipelajari oleh siswa.
  2. Memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penemuan.
  3. Menetukan lembar pengamatan untuk siswa.
  4. Menyiapkan alat dan bahan secara lengkap.
  5. Menetukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individual atauu secara kelompok yang terdiri dari 2,3 atau 4 siswa.
  6. Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa untuk menegtahui kesulitan yang mungkin timbul atau kemungkinan untuk modifikasi.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa, metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru dalam membelajarkan suatu materi kepada siswa di kelasnya untuk mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut. Metode penemuan terbimbing adalah suatu metode pembelajaran yang dalam pelaksanaannya guru memperkenankan siswanya untuk berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari guru. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka diharapkan dengan menerapkan pembelajaran terbimbing dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf melalui strategi belajar terbimbing.

Daftar Pustaka
Achmad. Mukhsin. 1990. Pengajaran Keterampilan Bahasa dan Sastra Indonesia. Malang V A3
Munirah, 2006. Dasar Keterampilan menulis, Diktat. Makassar: FKIP Unismuh Makassar

PENDEKATAN PAKEM


PENDEKATAN PAKEM

Oleh: Syamsul Rijal, S.Pd.I
(Guru SDN 203 Bongka Manu Desa Solo Kec. Angkona Kab. Luwu Timur)



A. Pendahuluan
Memberi kecakapan dan pengetahuan kepada siswa merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah dengan menggunakan metode-metode tertentu. Winarno Surakhmad menegaskan bahwa metode pengajaran adalah cara-cara pelaksanaan pada proses pengajaran, atau soal bagaimana tekniknya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada siswa di sekolah.



Menurut penulis, salah satu problem yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah masih rendahnya mutu pendidikan bila dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya negara-negara Barat. Indikasinya adalah bahwa sistem pendidikan di Indonesia yang telah dibangun dewasa ini belum mampu menjawab kebutuhan dan tantangan nasional dan global dewasa ini. Sementara itu, kualitas pendidikan masih jauh dari yang diharapkan.



B. Pendekatan PAKEM
PAKEM merupakan kependekan dari Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan. Suprihatin (2001:20) mengemukakan Pendekatan PAKEM adalah salah satu pendekatan belajar-mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi subjek didik seoptimal mungkin, sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan efesien tanpa tekanan dari pihak manapun.



Mohamad Ali (1988:15) mengemukakan PAKEM adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru yang dimiliki dengan perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar, dan diakhiri dengan penilaian hasil belajar yang pada praktiknya mencerminkan keaktifan maksimum bagi siswa dalam belajar sehingga menguasai berbagai keterampilan belajar secara menyenangkan.



Selain itu, Agriawan (2001:17) mengemukakan bahwa Pendekatan PAKEM yaitu pendekatan yang mengoptimalkan potensi siswa dan guru secara aktif dan kreatif sehingga memiliki berbagai keterampilan dalam belajar dengan tanpa terpaksa untuk melakukannya.



Dari ketiga pengertian di atas, maka penulis memberikan kesimpulan bahwa pada hakikatnya PAKEM berusaha menciptakan interaksi secara optimal antara semua komponen pembelajaran, sehingga siswa dan guru aktif berperan secara kreatif yang menghasilkan tujuan belajar secara efektif tanpa merasa terbebani oleh berbagai kegiatan dalam proses belajar-mengajar.



Di Sekolah Dasar, pendekatan dalam pembelajaran yang juga dianggap relevan untuk menjawab tuntutan zaman adalah pendekatan PAKEM. Dikatakan demikian karena pendekatan tersebut dapat mengakomodasi tuntutan perkembangan seluruh aspek dalam diri anak, baik dari kognitif, afektif maupun psikomotor. PAKEM merupakan konsep belajar aktif yang merupakan ramuan antara belajar aktif dan belajar menyenangkan (aktive learning and joyfull learning). Pendekatan ini berupaya memposisikan siswa sebagai orang yang belajar dan guru sebagai fasilitator. Metode-metode yang berpusat pada guru harus ditinggalkan dan perubahan perilaku guru dari mengajar ke membelajarkan harus diusahakan.



PAKEM memiliki pengertian sebagai berikut:
Aktif bagi guru: upaya mengaktifkan diri dalam memantau kegiatan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang siswa, mempertanyakan gagasan siswa, Aktif bagi siswa: dimaksudkan sebagai kegiatan siswa terlibat aktif dalam mengemukakan pertanyaan, mengemukakan gagasan, mempertanyakan gagasan orang lain dan gagasannya. Kreatif bagi guru adalah sebagai upaya guru dalam mengembangkan kegiatan beragam dan membuat alat bantu belajar secara sederhana, Kreatif bagi siswa artinya siswa kreatif merancang, membuat sesuatu melaporkan dan sebagainya. Efektif bagi guru diartikan sebagai pencapaian hasil yang telah dirumuskan oleh guru, Efektif dari segi siswa dimaksudkan bahwa siswa memiliki berbagai keterampilan yang diperlukan.. Menyenangkan diartikan sebagai upaya guru membuat anak tidak takut salah, tidak takut ditertawakan, tidak takut dianggap sepele, mengkondisikan anak asyik belajar. SedangkanMenyenangkan dari segi siswa maksudnya anak berani mencoba, berani bertanya, berani mengemukakan gagasan, berani mempertanyakan gagasan orang lain, senang dalam melakukan kegiatan sehingga terdorong untuk belajar terus.



PAKEM sesungguhnya lahir dari suatu kenyataan yang kurang menggembirakan dalam pengajaran. Kenyataan tersebut jika dikaitkan dengan hakikat belajar, yakni yang menghendaki perubahan antara lain: pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain pada individu yang belajar, maka hal tersebut sangat sulit dicapai jika belajar mengajar hanya mengandalkan metode ceramah. Oleh karena itu metodologi pengajaran “Duduk, Dengar, Catat, dan Hafal (DDCH)” yang berkembang selama ini tidak mungkin dipertahankan lagi karena dipandang kaku dan tidak konstruktif.



C. Penutup
Pendekatan PAKEM mengetengahkan prinsip-prinsip proses belajar-mengajar yang pada intinya bertujuan untuk meningkatkan prestasi siswa. PAKEM juga merupakan suatu pendekatan pengajaran yang diibaratkan bahwa anak bukan saatnya diberi ikan untuk dimakan. Konsep demikian diharapkan dapat menciptakan luaran peserta didik yang lebih kreatif, kritis, dan mandiri, tidak mempunyai ketergantungan yang besar terhadap orang lain karena seringnya disuguhi bahan jadi. Dengan PAKEM, siswa diharapkan mengolah konsep mentah menjadi konsep jadi.



DAFTAR PUSTAKA
Agriawan, 2001. Belajar yang Menyenangkan Sebuah Prosedur. Gema Media. Jakarta.
Ali, Mohammad, 1988. Konsep dan Penerapan CBSA dalam Pengajaran. Bandung: P.T. Sarana Panca Karya.
Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bandung: Fokusmedia, 2003.
Surachmad, Winarno, Metodologi Pengajaran Nasional, Jilid I, BAndung: CV. Jemmars, 1961.
Suprihatin, 2001. Belajar yang Efektif. Analisa: Jogjakarta.
Tim MBS Unesco-Unicef. 2003, Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan (Paket Pelatihan). Jakarta: Perwakilan Unesco –Unicef.



(Telah dipublikasi pada: GEMA SUARA GURU, Media Pendidikan Lintas Daerah, Edisi 91, Tahun ke-9, Juli 2015, halaman 18)